Billa and her talent

Billa and one of her creation.

Billa and one of her creation.

Actually…

I know Billa loves to draw anything since her at kindergarden B (TK B)

But, when she did something in orderly, and i saw it as a similar as pic book, i just shocked

How come my little girl could do that. i never taught her to make the pic book. The fact is, i can’t make it at all.

Today, she already made a few of pic book. But some of it, i kept it for ourselves. And the rest i share in this blog or e-book free blog, belong to Gita Lovusa.

And, now. Billa has a slot for a profile as an author in that website. I feel so proud. I don’t know, whether her talent in drawing pic book will continue for the rest of her life, or it will cut off when she gets older.

All i want to say, that… as long as she love making a story and a drawing, i will support her to do that.

I just wish all the best for her, for whatever she will choose for her future.

***

This is what written in the blog, about Billa’s profile : 

Penyuka kardus, pensil warna, serta kertas kosong ini, sekarang sekolah di kelas 1 SD Islam Alsyukro Universal Ciputat. Bercita-cita menjadi penggambar, penulis, dan penghapal Alquran.
Setiap pulang sekolah selalu bermain dengan Aam, adiknya, dan mengutak-atik kardus, lem, serta beragam benda dalam kotak mainannya.

Translate :

Cardboard, colored pencils and blank paper lover, is student of Secondary School of Islam Alsyukro Universal Ciputat. She is at First Grade. Want to be an Illustrator, writer, and Koran Memorizer.
Each time, if she come home from school, she will always play with Aam, her brother, and fiddling with cardboard, glue, and a variety of objects in the toy box.

Advertisements

Membidik Majalah Bobo

Pertama kali tertarik menulis untuk majalah Bobo, adalah tahun 2009. Aku belajar sendiri dan kuikuti lomba cerita misteri majalah Bobo tahun itu.

Surprise, ternyata kerja kerasku belajar sendiri, belajar ngedit naskah dan nekad tanpa pengalaman  mencoba ikut lomba, ternyata naskahku masuk jajaran naskah terbaik. Uang 500.000 masuk ke kantongku. Kisahku yang berjudul “Teka Teki Telapak Tangan” berhasil masuk dalam kumpulan cerita Pustaka Ola setahun kemudian.

340201_2358793366725_1156993721_32830201_1938007935_o

Tulisanku berikutnya yang masuk ke majalah Bobo, adalah Sayap Peri Elly. Sebuah naskah cernak, hasil belajar bareng Kang Iwok di Komunitas Blogfam (pada tahun 2010), membuatku semakin percaya, bahwa aku ada kemampuan menulis cerita anak, terutama untuk majalah Bobo.

293687_10150282742364798_373052_n

Sayangnya, kemampuanku itu tak kuasah. Aku malah keasyikan menulis cerita untuk novel anak. Akhirnya bertahun kemudian, aku coba menulis kembali untuk majalah Bobo. Akhirnya, tahun ini (2014), naskah hasil belajar menulis cernak bersama Winner Class dan Mbak Veronica, berhasil masuk majalah Bobo, dengan judul “Kertas Surat Warna-Warni”.

10552604_10152586462129798_4749754620966296437_n

Karena itu, mengingat sulitnya aku menulis novel anak dalam 2 tahun terakhir, karena fokus pada anak-anak (terutama Aam), maka aku kembali belajar menulis cerita pendek untuk anak. Ada 3 kelas online kuikut tahun ini, untuk memperdalam tulisan cernak yang sesuai dengan target majalah, terutama majalah Bobo. Kelas online (gratis) Penulis Tangguh, milik mbak Nurhayati. Aku senang bukan main bisa diterima audisi di kelas ini.

Selain belajar menulis cerita dewasa, aku juga terus mendalami ilmu menulis cerita pendek anak. Aku juga mendaftar di kelas Winner, milik Kang Ali Muakhir. Karena dari semua mentor yang mumpuni di Komunitas Penulis Bacaan Anak, baru kali ini aku dapat kesempatan belajar langsung dengan penulis senior baik hati ini.

Dan terakhir, aku ikut kelas online berbayar, Kelas Kurcaci Pos, milik penulis cernak langganan Bobo, Mas Bambang Irwanto. Sungguh nekad sekali. Karena aku berencana tahun depan (2015) kembali mencoba fokus menulis novel.

Bismillah, semoga dimudahkan.

Berbagi Pengalaman Menulis

Serunya para peserta

Serunya para peserta

Dalam dua bulan terakhir ini, alhamdulillah diperkenankan Allah untuk membagi sedikit pengetahuan dan pengalamanku perihal tips menulis cerita anak.

Tempat pertama di sebuah sekolah menengah pertama islam terpadu di Depok. Laporan singkatnya bisa dilihat di kisah Serunya Peserta SMPIT Rahmaniyah Depok. Sharing tersebut dilaksanakan bulan September lalu. Sungguh menyenangkan sekali.

Sharing berikutnya di bulan November tanggal 1, tentang Tips Menulis Cerita Anak, dilaksanakan di FX Senayan, Jakarta. Kerjasama dengan Women Script Community..:)

Aku berharap bisa lebih sering lagi menulis, menerbitkan karya dan sekaligus membagi pengalaman tersebut ke banyak orang. Semoga dimudahkan.

 

Tips Membuat Karakter Pada Novel Anak

 

Biasanya saya  menggunakan beberapa pendekatan untuk membuat karakter.

 

Pemaparan Karakter Versi #1

 

Contoh seperti ini saya gunakan untuk novel the Cousins

***

* Vito McDamon

1411c5d9a06098b8fbf7540167cd20f8

Vito [bahasa latin] : pemberi kehidupan, McDamon : sekedar menambah unsur kebule-bulean]
Usia : 11 tahun
Ibu : Mama Rosy [Peneliti/arkeologi]
Ayah : Papa Willian McDamon [dipanggil Bill atau Uncle Bill] [arkeolog/ahli IT]
Nama Panggilan : Vito
Anak Tunggal

Karakter Fisik :

– Tinggi badan 152 cm. Tubuhnya tidak terlalu tinggi
– Bule banget. Karena peranakan Australia dan Indonesia
– Mata tajam dan berwarna kebiru-biruan.
– Hidung mancung
– Kulit kuning bule
– Rambut pirang kecoklatan
– Kesan cuek dengan rambut awut-awutan, sisir pake tangan.

Temperamen : Pendiam, cuek, terkesan tak perduli sekitar.

Hobby : Gadget freak. Suka mempelajari alat-alat elektronika dan tehnologi. Suka Menyisir rambut dengan tangan sendiri.

Kebiasaan buruk/baik : bersikap nyaris seperti anti sosial. Suka menyendiri. Tak begitu suka keramaian, cenderung tak suka musik ataupun group band.

Keunikan : Tak satu pun alat tehnologi atau gadget yang tak bisa diutak-atiknya. Otaknya cerdas banget. Cenderung tidak seperti manusia umumnya. Memiliki kemampuan fotografik memory.

Kesukaan/ketidaksukaan : suka mengutak atik komputer dan program komputer. Tidak begitu suka sekolah umum karena terbiasa homeschooling.
Selalu menyisir rambut dengan tangannya, jika merasa khawatir atau tak nyaman.

Yang ditakuti/phobia : Air dalam jumlah sangat banyak, seperti kolam renang atau laut/danau. Karena pernah nyaris tenggelam ketika ikut orang tuanya bertualang.

Rencana Jangka pendek : dapat menemukan ayahnya yang hilang.
Rencana jangka Panjang : mandiri dan tidak sering bergantung pada pertolongan orang lain lagi.

 

 

Pemaparan Karakter Versi #2 (Menggabungkan data berikut deskripsi cerita)

cute-boy-alone-sad-beautiful-lonely-depress-5201

Miko memperhatikan ujung kakinya. Sepatu yang tidak jelas mereknya itu telah digunakannya sejak setahun yang lalu. Awalnya kebesaran, tapi sekarang sudah pas di kakinya.

Miko melirik gang sekolah. Sudah lengang. Kelas 5A tempat ia dan Mel satu ruangan juga sudah sepi.

Miko memegang pipinya. Tulang pipinya yang tinggi terasa agak sakit. Bisa jadi karena terkena bola basket tadi, tapi sepertinya karena kalimat Mel tadi membuatnya seperti tertampar dan sadar. Bisa jadi rambut ikal coklat, hidung mancung, mata biru kehijauan, terkadang berubah-ubah warnanya tergantung kondisi hatinya serta kulitnya yang cenderung kuning ini memang berasal dari negara lain, dan itu bisa jadi bukan Indonesia. Lalu siapa ayahnya sebenarnya?

Miko melirik kelingkingnya yang bengkok akibat bermain basket dan mengalami patah ringan tahun lalu, masih menyisakan bentuk yang aneh. Tapi sudahlah, bukan itu yang Miko pikirkan.

Tubuhnya memang jangkung untuk ukuran anak kelas 5 SD. 170 cm dengan kaki terlihat jenjang, tak sepadan dengan berat badannya yang tak lebih 50 kg.

Selama ini Miko tak begitu mempedulikan, hingga hari ini seseorang bernama Mel, murid baru di kelasnya, mengatakan “Aku seperti pernah jumpa bapak-bapak, wajahnya mirip kamu di negara asalku, Argentina,” kata Mel dengan bahasa Indonesia sedikit terbata.

Mel memang anak baru. Pindahan dari Amerika Latin, dan ibunya Mel adalah orang Indonesia. Ayah Mel kabarnya orang Argentina.

 

Pemaparan Karakter dengan Mind map

 ScreenshotAmandaMindMap-1024x571

ini juga biasa saya lakukan, sayangnya saya belum sempat foto untuk mind map dari karakter Odie.

Cara seperti ini juga saya gunakan untuk membuat outline sementara utk novel saya. Kelebihan cara ini, lebih mudah mengingatnya. Terutama jika membuat novel anak dalam jumlah halaman 100 lebih….

Selamat mencoba.

*Foto-foto hasil gogglingan nih… lupa linknya. 😦

 

 

Tips Memulai Menulis Novel Anak

4 buku anak

Seperti halnya cerpen yang memiliki syarat seperti adanya karakter, konflik, plot dan ending, demikian pula sebuah cerita di novel. Bedanya di novel konfliknya lebih dari satu. Biasanya ada konflik utama, lalu konflik turunan atau konflik kecil. Karakternya pun bisa beragam atau lebih banyak dari sebuah cerpen.

Sehingga, sering kali, jika seorang penulis yang terbiasa menulis cerita pendek, akan sedikit terengah-engah (nafas menulisnya pendek) dalam menuntaskan kisah sebanyak 40 -100 halaman (sebagai syarat jumlah halaman novel anak umumnya di Indonesia).

Berikut ini, (berdasarkan pengalaman saya menuliskan 6 novel anak) ada 2 cara (dari sekian banyak cara yang mungkin dimiliki penulis novel anak lainnya), yang cukup efektif membantu saya memulai menulis novel, hingga bisa sampai akhir (istilahnya “bernafas panjang”).

 

Cara pertama,

 

Membangun karakter terlebih dahulu sebelum menentukan alur/plot atau deskripsi cerita. Sebagai contoh, untuk novel Odie dan The Cousins, saya membuat daftar karakter, dan dimulai dengan mencari foto di internet, kemudian mendeskripsikannya. Mulai dari nama lengkap, nama panggilan, hobby, sifat baik, sifat buruk, kelebihan, kekuatan, kelemahan, pendidikan, pokoknya buat sebanyak mungkin informasi satu karakter berdasarkan foto tersebut termasuk ciri-ciri fisik dan non fisik.

Umumnya, untuk novel anak, tokoh antagonis yang menonjol satu orang, sementara protagonis bisa lebih dari satu, dan ada juga karakter penunjang. Saya sarankan, buat semua karakter itu sedetail mungkin.

the cousins in gramedia palembang

Misalnya tokoh Vito dalam novel The Cousin, saya gambarkan sebagai berikut :

 

* Vito McDamon

 

Vito [bahasa latin] : pemberi kehidupan, McDamon : sekedar menambah unsur kebule-bulean]
Usia : 11 tahun
Ibu : Mama Rosy [Peneliti/arkeologi]
Ayah : Papa Willian McDamon [dipanggil Bill atau Uncle Bill] [arkeolog/ahli IT]
Nama Panggilan : Vito
Anak Tunggal

Karakter Fisik :

– Tinggi badan 152 cm. Tubuhnya tidak terlalu tinggi
– Bule banget. Karena peranakan Australia dan Indonesia
– Mata tajam dan berwarna kebiru-biruan.
– Hidung mancung
– Kulit kuning bule
– Rambut pirang kecoklatan
– Kesan cuek dengan rambut awut-awutan, sisir pake tangan.

Temperamen : Pendiam, cuek, terkesan tak perduli sekitar.

Hobby : Gadget freak. Suka mempelajari alat-alat elektronika dan tehnologi. Suka Menyisir rambut dengan tangan sendiri.

Kebiasaan buruk/baik : bersikap nyaris seperti anti sosial. Suka menyendiri. Tak begitu suka keramaian, cenderung tak suka musik ataupun group band.

Keunikan : Tak satu pun alat tehnologi atau gadget yang tak bisa diutak-atiknya. Otaknya cerdas banget. Cenderung tidak seperti manusia umumnya. Memiliki kemampuan fotografik memory.

Kesukaan/ketidaksukaan : suka mengutak atik komputer dan program komputer. Tidak begitu suka sekolah umum karena terbiasa homeschooling.

Selalu menyisir rambut dengan tangannya, jika merasa khawatir atau tak nyaman.

ditakuti/phobia : Air dalam jumlah sangat banyak, seperti kolam renang atau laut/danau. Karena pernah nyaris tenggelam ketika ikut orang tuanya bertualang.

Rencana Jangka pendek : dapat menemukan ayahnya yang hilang.

Rencana jangka Panjang : mandiri dan tidak sering bergantung pada pertolongan orang lain lagi.

 

Gunakan sebuah foto untuk mendukung penggambaran karakter ini.

 

Lalu bangun karakter-karakter lain dengan cara yang sama. Jika sudah detail. Baru mulai dengan menceritakan masing-masing karakter. Kelebihan cara ini, penulis mengikuti maunya si karakter, hingga biasanya cukup memiliki tema utama, lalu cerita mengalir mengikuti karakter-karakter yang muncul. Contoh novel Indonesia yang mengandalkan karakter dalam novelnya adalah novel Pangeran Bumi dan Ksatria Bulan karya Ary Nilandari.

 

Saya pribadi menuliskan novel Odie dan The Cousins dengan membuat karakter, baru kemudian tema besar dan outline sederhana. Faktanya ketika menulis, sering kali saya keluar dari outline karena mengikuti maunya karakter utama. Asyiknya cara ini, jarang bisa mati ide atau writer’s block, karena kita bisa bermain-main dengan karakter yang sudah detail.

Kekurangan cara ini, mungkin jika mau ikutan dalam lomba menulis yang sudah ada tema. Mungkin akan lebih sulit, karena belum tentu karakter yang kita bangun, mau mengikuti tema yang sudah ditentukan sebuah lomba.

 

 

Cara Kedua,

 

Membuat Konflik utama atau tema utama dari novel. Sebagian penulis malah langsung membuat adegan yang menarik untuk halaman pertama. Sehingga seringkali muncul banyak tokoh baru ketika menuntaskan novelnya. Kelebihan cara ini adalah, bisa menyesuaikan diri dengan tema yang mungkin direkues atau diminta oleh penerbit atau panitia lomba. Kekurangannya, agak sedikit lambat, karena sering muncul tokoh baru, atau penulis terpaksa membatasi diri dengan tema yang digusung.

Cara ini saya gunakan ketika mendapat orderan tema menulis dari penerbit. Jadi untuk novel Gomawoyo,Chef! dan novel Sirennetta, saya menggunakan cara ini. Tema utama sudah ada, lalu saya pretelin, atau saya uraikan dengan membuat konflik-konflik kecil.

SIRENETTA DI  jawa timur

 

Dalam novel Gomawoyo, Chef! penerbit meminta tema utama adalah terkait tema masak memasak. Lalu kubuat system mind map, dengan kata masakan sebagai tema utama. Lalu saya mulai dengan membuat “kaki gurita” mulai dari point 1 hingga 10 (tergantung jumlah halaman, dan biasanya saya pastikan 1 halaman hanya berkisar dari 4-5 halaman saja). Jadi dari masakan itu muncul point pertama seperti latar belakang muncul tokoh, tokoh pergi ke desa, tokoh berjumpa makanan khas korea, tokoh mencari tahu siapa pembuatnya, dan seterusnya.

Setelah mendapatkan point tersebut, baru saya masuk ke bagian karakter. Tak jarang ada penulis yang langsung mendeskripsikan adegan per adegan berdasarkan point yang sudah dibuat. Karakter dibentuk pada saat penulisan.

Kekurangan cara ini, umumnya sering kali (tidak berarti tidak ada) tokoh atau karakter utamanya tidak kuat, bahkan plin-plan. Misalnya di awal kisah pemberani, di satu konflik tertentu jadi penakut. Atau bahasa yang digunakan terkesan pintar, padahal tokohnya di awal dijelaskan tidak tamat sekolah. Hal ini akan kelihatan ketika novel mengalami fase edit. Banyak logika cerita yang bolong-bolong.

Untuk novel Gomawoyo Chef! meskipun saya menggunakan system tematik, tetap saya gabungkan dengan pola atau cara pertama, yakni membangun karakter. Karena itu, karakter tokoh dalam novel terjaga konsistensinya dan terhindar dari logika cerita yang mengada-ada.

Demikian dua cara yang biasa saya gunakan ketika membuat awal novel.

Berdasarkan cara yang ada, maka kita dapat membuat beberapa langkah untuk menulis, yakni :

  1. Buatlah terlebih dahulu karakter (penjelasannya ada di tulisan lain, berjudul Tips Membuat Karakter Pada Novel Anak).
  2. Membuat Tema utama, misalnya Anak Band dan Alien (contoh Novel The Cousins)
  3. Lalu dipretelin atau dipecah menjadi beberapa bab. Seperti Bab 1 judulnya Alex dan Radio. Bab 2 berjudul Kedatangan Vito, dan seterusnya.
  4. Setiap judul bab tersebut buat deskripsi bab sebanyak 3-4 kalimat.

Nah, dengan bermodalkan 1 tema besar, 10 bab sub judul dengan deskrispi, karakter yang sudah dibuat (jumlah karakter boleh bebas, umumnya 1-2 tokoh utama protogonis, 1-2 tokoh utama antagonis dan 1-2 orang tokoh pendukung – tergantung jumlah halaman),  maka, kita sudah bisa mulai menulis novel anak 40 -100 halaman.

 

Dan Ingat… jika karakter yang jadi pegangan kita, jangan takut untuk menggganti outline yang sudah kita buat.

Sebaliknya, jika outline yang jadi pegangan kita, hati-hati ketika memasukkan karakter, pastikan tidak bolong logikanya.

Selamat mencoba! 🙂

 

 

Pentingkah Komunitas dan Personal Branding bagi Penulis/Blogger?

Bergaya di antara karyaku

Mencoba bergaya di antara karyaku. Bagian dari pencitraan diri atau sekedar narsis belaka? ^_^V

Selain niat silaturahim bersama para penulis dan pengamat bacaan anak, tujuan lain aku hadir di pesta awug Komunitas PBA pada hari Sabtu, 25 Mei 2013 beberapa waktu lalu, adalah mengikuti talkshownya. Tema yang digusung menarik. Belum lagi narasumber yang berbicara nanti adalah orang-orang yang mumpuni di bidang masing-masing.

Seperti yang sudah aku tulis di postingan My First Awug Party, bahwa yang bicara di panggung, adalah Teh Ary, Bang Aswi, Kak Injul dan Iin Indari.

Berikut, reportase amatiran yang kubuat.

Pembicara pertama adalah Teh Ary Nilandari (Penulis Buku Anak) .

DSC04774

Teh ary dan tawa khasnya

Dengan celana berwarna coklat, dan baju bermotif senada plus jilbab cantik, teh Ary yang kerap dipanggil Bunda Peri, oleh Pabers (sebutan bagi anggota komunitas PBA), karena kebaikan hatinya membagi ilmu dan pengalamannya di group, membuka talkshow tersebut dengan membagi dua jenis penulis.

“Jika, kita bicara tentang penulis, maka ada yang Just Author, dan satu lagi Published Author.” Suara lembut teh Ary agak sedikit dikalahkan oleh riwehnya kondisi sekitar. Catatan buat kegiatan talkshow komunitas PBA berikutnya, mungkin jika mau bikin talkshow, mending cari kawasan yang lebih tenang, tidak di mal… Hihihi.

Selanjutnya, Teh Ary menjelaskan, bahwa menjadi Published Author itu selalu (berada) dalam fase proses. Karena menerbitkan 1 buku saja is not enough. Harus terus-menerus, karena menulis dan menerbitkan buku itu tak ada batas lulusnya.

Bagi Teh Ary, membaca itu seperti menarik nafas dan menulis adalah fase menghembuskan nafas. Semua dilakukan terus menerus dan berulang. Kita (sebagai penulis buku) tidak boleh cepat puas. Itu salah satu alasan kita harus terus menulis.

Paparan beliau berikutnya adalah, ketika ditanya oleh moderator (Kang Ali dan Bhai Benny) mengenai beda Penulis dengan Pengetik. Menurut Teh Ary, entah, apakah istilah ini cukup relevan atau tidak, namun yang pasti, Pengetik hanya mengetik saja, tanpa aware dengan isi tulisan. Sementara penulis lebih peduli dengan tulisan yang dibuatnya. Artinya, seorang penulis akan aware atas apa yang ditulisnya.

Terkait dengan kompetisi menulis yang makin kuat, Teh Ary memberikan beberapa tips untuk pabers dalam meningkatkan kualitas tulisan, antara lain :

1.    Passion.

Apakah si penulis memiliki passion atau tidak terhadap dunia menulis. Menulis itu dilakukan untuk apa? Panggilan hatikah?

(Hemmm… Kalau aku ditanya soal ini, aku sudah dapat jawabannya. Karena aku merasa menulis sudah menjadi panggilan hati. Apalagi genre anak-anak. Rasanya menyenangkan sekali menulis di genre ini. Mungkin itulah sebab, aku sangat enjoy menulis cerita anak, termasuk novel anak.)

2.    Mencari celah di pasaran.

Tema apa yang tak ada di pasaran, atau sebaliknya memperhatikan yang lagi trend.

(Maksudnya pasti nongkrongin toko buku, dan rak-rak di toko buku, buat tahu tulisan yang lagi trend, apa yang gak ada di rak-rak itu. Termasuk mantengin buku-buku di online store milik penerbit, dan juga obrolan-obrolan antar penulis di komunitas atau bahkan emak-emak di sekolahan anak, kali ye?)

3. Tidak cepat puas atas hasil saat itu saja.

Harus ada yang dilabelkan pada diri si penulis. (nanti akan terkait dengan personal branding. Misalnya Teh Ary, sudah dikenal sebagai penulis buku anak). Upayakan untuk tidak sampai menekuni semua genre, karena bisa mentah semuanya. Jadi saran : pilih satu genre dan fokus di situ!

(Sip! Untuk yang satu ini, aku setuju. Aku terbiasa melatih diri untuk fokus pada satu bidang. Karena kalau terlalu banyak yang ingin dikuasai, jika tak mampu, akunya yang tepar, alias gak akan menghasilkan apa pun.)

Teh Ary juga menjawab pertanyaan terkait dengan kecenderungan penulis anti kritik (karena umumnya penulis memiliki ego yang lebih gede). Ada tips menghadapi kritik (terkait lomba resensi yang diadakan oleh Komunitas PBA) :

–           Jika membaca kritik yang pedas, setelahnya minum air dulu. Artinya jangan terbakar (emosi) dulu.

–           Kritik itu tentu disampaikan setelah membaca buku. Itu artinya, buku kita dibaca seseorang. Dari pada bukunya diobral tapi tidak dibaca, tentu lebih baik diresensi/dikritik, karena itu berarti buku tersebut dibaca dan diteliti.

–           Resensi bertabur pujian juga bukan berarti segalanya. Karena buku itu kembali kepada selera.

–           Selama masih mau memperbaiki diri, itu bertanda baik untuk meningkatkan kualitas diri dan tulisan.

Pembicara berikutnya, adalah Bang Aswi (Blogger dari Warung Blogger).

Bang Aswi dengan awug di tangan.

Aku sering mendengar dan membaca id Bang Aswi ini di seputaran dunia blog. Namun baru satu kali ini berjumpa ayah dua anak dengan tubuh yang terlihat sehat (ups…!).

Bang Aswi memulai pembicaraannya dengan menjelaskan bahwa latar belakang dirinya adalah juga seorang penulis. Tergabung di FLP yang fokus di fiksi/cerpen. Kemudian, setelah menjadi pegawai kantoran, kondisi ini mengubah rutinitas diri. Hingga sulit baginya untuk fokus menulis buku.

Akhirnya, untuk menghindari agar tak berhenti menulis, Bang Aswi mencari cara lain. Maka berkenalanlah ia dengan media internet (website/blog) pada  tahun 2007. (Sebelumnya juga di Multiply pada tahun 2005). Selanjutnya, aktivitas ngeblog semakin lama makin intens, dan terlibat dalam komunitas. Hal ini sangat mendorong dirinya untuk aktif ngeblog.

Saat ini, Bang Aswi justru lebih dikenal sebagai blogger, yang juga terlibat di beberapa komunitas, sebagai anggota FLP, PBA dan juga dengan IIDN serta Blogger se ASEAN.

Bagi Bang Aswi, Ngeblog bukan hanya mengeluarkan uneg-uneg, tapi konsep blogging dibuat tidak sekedar bagi kita pribadi dan keluarga, tapi juga untuk orang banyak. Jika sudah fokus, materi akan datang dengan sendirinya.

Menurut Bang Aswi, sebagai penulis, tidak enaknya harus menulis berlembar-lembar dan lama, baru menghasilkan uang. Sementara sebagai blogger cukup 2 halaman saja, nilai uang yang didapat sudah sama dengan penulis. Namun, nggak enaknya, dunia blogger hanya dikenal di dunia maya (oleh mereka yang aktif di internet). Kalau Penulis, dapat dikenal di dunia mana saja.

Menanggapi asumsi menyatakan bahwa Blogger itu sama dengan Publisher Online atau Wartawan, maka penjelasan beliau, faktanya adalah tidak sama. (Sayang di bagian pembedaan ini, entah aku yang nggak mudeng karena sedikit terganggu dengan kondisi sekitar talkshow, atau emang Bang Aswi nggak jelasin, jadi aku tak punya catatan khusus mengenai ini).

Dijelaskan juga, bahwa Nilai plus jadi blogger itu banyak. Sehingga dirasakan perlu bagi seorang penulis untuk memiliki blog. Karena blog bisa menjadi marketing bagi diri penulis. Seorang penulis tidak boleh acuh dengan dunia online.

Ngeblog adalah perpanjangan marketing bagi seorang penulis. Jadi harus rajin membuat tulisan yang diposting di blog. Karena blog sifatnya Universal. Halamannya tetap dan mudah untuk dilacak. Berbeda dengan thread di media social seperti facebook ataupun twitter yang cenderung cepat berubah.

Pembicara ke tiga adalah Kak Indah Juli (Blogger dari Komunitas Emak Blogger).

DSC04724

Kak Injul, kombinasi yang menarik, jika melirik tangannya, ada awug dan gadget 🙂

(Info gak gitu penting, kalau aku juga anggota komunitas Emak-emak Blogger. Komunitas ini terbilang baru juga, tapi gebrakannya sudah kemana-mana. Kepengen juga bisa aktif di komunitas ini. Sayangnya waktu sebagai ibu dua balita dan deadline menulis, belum mengijinkan aku untuk lebih aktif di komunitas ini. Someday… someday… I wil active in this community. Karena komunitas ini positif sekali.)

Kak Injul, demikian aku dan banyak teman memanggil beliau, awalnya adalah juga seorang penulis. Kemudian asyik ngeblog dan akhirnya aktif di komunitas. (Kak Injul merupakan salah satu Admin 13 PBA yang mengundurkan diri, karena fokus pada komunitas Emak Blogger).

Menurut Kak Injul, komunitas sangat penting bagi blogger dan penulis. Karena saat ini kita hidup di dunia serba digital. (Jadi informasi begitu cepat terlacak, termasuk dengan hanya duduk manis di rumah dan klak-klik sana-sini di sebuah website, kita sudah bisa mendapatkan banyak pengetahuan, termasuk info diri atau barang).

Suatu komunitas akan bisa membangkitkan dan menjadikan seseorang yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa, apabila ia aktif di sebuah komunitas. Dan seseorang yang aktif di komunitas dan blognya juga aktif, akan dilirik Brand. Kak Injul juga menceritakan dirinya yang saat ini sudah menjadi PAID REVIEW. Termasuk pengalamannya setahun  dapat kiriman es krim Walls, karena menjadi reviewer bagi rasa es krim tersebut. Sedaaaaaap …hihihi

Munculnya kemungkinan sebuah komunitas yang aktif menjadi sarana “menjual brand” bagi seseorang atau perusahaan, tak lain, karena berawal karena Komunitas bukanlah sebuah badan hukum. Sehingga tidak ada dana khusus di komunitas. Di sinilah sponsor memegang peranan untuk menghasilkan uang (bagi komunitas tersebut. Tentunya dengan menjalin kerja sama yang baik). Maka, peran Brand masuk ke komunitas.

Kak Injul juga mencontohkan, Komunitas PBA telah memiliki lebih dari 3000 anggota yang masuk dengan sukarela. Ini artinya sudah bagus untuk aktif. Dan memungkinkan adanya peran Brand masuk ke dalam komunitas.

Penjelasan Kak Injul selanjutnya adalah, alasan untuk bergabung dalam sebuah komunitas. Menurutnya, gabung dalam sebuah komunitas itu akan memberikan 3P, yakni  :

  1. Pengetahuan : Misalnya bergabung di komunitas PBA, kita jadi tahu informasi dan pengetahuan mengenai dunia menulis cerita anak.
  2. Pertemanan : atau Network. Ini penting bagi promosi produk yang dihasilkan seorang, dalam hal ini buku bagi penulis.
  3. Pengalaman : Misalnya tergabung di komunitas PBA, maka dapat ikut dalam tawaran menulis cernak. Belajar melibatkan diri pada event yang dilakukan PBA ataupun komunitas yang diikuti.

Pembicara terakhir adalah Indari Mastusi dari IIDN.

DSC04733

Indari, sosok perempuan muda yang aktif, kreative dan memiliki banyak ide di kepalanya.

Tema utama yang harus digusung Indari dalam talkshow ini adalah tentang Personal Branding. Namun, Iin menjelaskan dulu beberapa latar belakang atau proses dirinya hingga terbentuknya personal branding bagi dirinya. Berikut beberapa catatan yang berhasil kutulis. (Kondisi mal BIP makin siang makin ramai, membuat aku mulai kesulitan untuk konsentrasi dengan apa yang dipaparkan oleh Iin).

  1. Indari mulai menulis tahun 1996, namun fokus menulis buku mulai tahun 2004. Tanpa disadari, sejak SMA, dia telah membranding diri menjadi penulis. Penulis merupakan salah satu profesi eksklusif, karena menulis itu enak. Kita bisa bicara banyak kepada orang melalui buku.
  2. Belajar dari kritikan itu sangat menguntungkan. Contoh 1 naskah ditolak penerbit karena beda visi dan misi, itu artinya, sebagai penulis, kita harus mencari penerbit yang satu visi dan misi dengan buku kita. Naskah yang ditolak akhirnya, menemukan penerbit yang tepat/sevisi dan semisi.
  3. Indari juga belajar dari pengalaman untuk tidak mengirimkan naskah di dua tempat.
  4. Tahun 2009, Ia mulai mengenal personal branding. Mengenalkan diri dan karya jauh-jauh sebelum buku terbit, ternyata menjadi bagian dari proses personal branding. Hingga dikritik pun adalah bagian dari assesment form.

Menurut Indari, Personal branding itu mahal. Harus cocok antara yang dijual dengan karakter personalnya. Misalnya Si A adalah Dynamic Coach. Maka harus sesuai/cocok dengan branding yang diusulkan.

Dalam proses personal branding, harus fokus. Melalui proses yang cukup lama. Sebagai penulis, misalnya, harus sudah menentukan genre apa yang dipilih. Minimal 3 tahun pembentukan personal branding sebelum akhirnya diakui masyarakat. Bahkan ada yang sampai 10 tahun, baru bisa mencapai personal branding.

(Sayangnya, hingga akhir penjelasan dari Indari, aku tak mendengar definisi yang pas tentang personal branding dari Indari. Hingga membuat aku harus googling dan mencari tahu tentang pengertian personal branding tersebut di Mr.Google.)

Ternyata aku menemukan banyak info seputar personal branding di beberapa blog. Dan yang  kutangkap diantaranya :

Personal Branding merupakan kunci untuk membangun dan menghasilkan jutaan orang-orang yang profesional. Personal brand digunakan sebagai alat untuk membentuk pandangan orang lain kepada diri anda. Dalam buku The Branding Called You oleh Peter Montoya pada tahun 2009, bila personal branding digunakan dengan benar, dengan kreativitas, perencanaan, dan konsistensi, maka dapat dipastikan anda akan memiliki suatu merek pribadi yang dapat membantu anda melakukan tiga hal:

(1) Membangun nama dan memberikan gambaran kepribadian anda pada orang lain, dimana dari kedua hal tersebut akan memberikan gambaran yang memang dibutuhkan dari anda.

 (2) Memberikan ketertarikan dan penjelasan yang lebih jelas dan bisa menguntungkan klien.

 (3)Membantu Anda mempertahankan klien anda, bahkan ketika bisnis sedang berjalan lambat bagi orang lain.

(sumber dari psikologizone)

Di link ini juga dijelaskan bahwa Personal Brand adalah diri kita. Dijelaskan juga bahwa personal brand is a promise dan personal brand is relationship.

Sementara di blog lain, dipaparkan kalau Personal Branding adalah pencitraan terhadap diri seseorang yang dibangun oleh orang yang bersangkutan dan diapresiasi oleh orang sekitarnya. Mungkin dalam bahasa yang sederhana Personal Branding dapat diartikan sebagai “Nama Baik”. (Mengutip dari tulisan tentang cara membangun personal branding)

Nah, di sini aku mendapat kesan, bahwa personal brand sama dengan Nama Baik bagi seseorang.

Tulisan lain yang menarik seputar personal branding ini juga aku temukan di  dua blog berikut :
http://www.psikologizone.com/apa-itu-personal-brand/06511830

Ada juga wawancara seorang Mas Silih Agung terkait personal branding ini. Lengkapnya silahkan klik yang INI : http://kagamavirtual.com/2011/08/02/personal-branding-bersama-mas-silih-agung-wasesa/

Selebihnya silahkan untuk bertanya pada mr Google atau Opa Wikipedia ya… 🙂

Di akhir acara, setelah ada fase tanya jawab dan lain sebagainya, dibagikan juga Tips dan Trik menjadi Penulis sekaligus Blogger.

  1. Schedule (dari Bang Aswi). Menulis satu tulisan 1 hari di blog
  2. Target, minimal satu minggu berapa tulisan
  3. (Kak Injul) Kalau jadi blogger yang Paid Review ini berarti kasta bloggernya sudah beda. Personal Branding seorang penulis bisa dilihat dari isi blognya, bisa tentang buku atau hal yang ingin ditonjolkannya.
  4. Pake Deadline untuk ngeblog.
  5. Kultwit yang dibuat di Twitter, bisa dirapikan lalu dipindahkan ke blog. Postingan di sebuah group di FB, bisa dipindahkan ke blog. Artinya satu tulisan, bisa dibuat untuk banyak tempat. Nantinya dari postingan blog, bisa dishare ke komunitas atau ditwit kembali ke komunitas.
  6. Sinopsis buku dipindahkan ke blog. Ini bisa untuk promo. Gunakan tag yang cocok, misalnya tag sinopsis, review atau sejenisnya.
  7. Upayakan proses menjadi personal branding ini adalah dengan cara memaksimalkan semua jejaring sosial.
  8. Lakukan 1 passion itu berulang-ulang, misalnya menargetkan membuat 200 buku anak dan lainnya (teh ary)
  9. Terkait Personal branding, tidak melulu  harus narsis atau sebaliknya harus jaim. Ini adalah masalah pencintraan. Personal branding adalah assesment. Jadi hindari anggapan negatif.  Justru harus menguatkan citra dimanapun berada. (Indari)

Berikut tips mengenai cara yang paling soft mempromosikan personal branding, antara lain :

  1. Membuat tips dan trik tentang hal yang kita kuasai, misalnya editing atau cerita anak. Baik di twitter atau blog.
  2. Bersabar, karena personal branding membutuhkan waktu minimal 3 tahun, dengan melakukan publikasi, edukasi dan pendekatan terhadap masyarakat umum.
  3. Memanfaatkan semua jejaring sosial, agar selalu berkesinambungan. Misalnya Facebook dijadikan ajang untuk unjug diri. Atau Kompasiana sebagai sarana menulis yang tak terkait dengan hard selling.

Kesimpulan akhir :

Bergabunglah di sebuah komunitas dan dukung semua kegiatan di dalam komunitas tersebut. Artinya komitment dan terlibat dalam komunitas tersebut.

Jangan takut membuat kesalahan dalam berproses. Baik itu dari orang lain ataupun dari diri sendiri.

Blogger berawal dari menuliskan hal kecil sederhana. Jangan berharap langsung besar. Keuntungan menulis blog adalah, ketika bisa dikumpulkan malah menjadi buku

Sudah mulai berpikir mengenai personal branding. Pilih untuk fokus tentang satu hal pada diri, yang mana yang akan dijadikan BRAND

 

***

Lalu sepulang dari acara tersebut, aku tanya pada diriku sendiri. Efeknya ke aku apa, nih?

Dan aku mencoba menjawabnya sendiri. (Ya Allah.. nanya sendiri, jawab sendiri…hihiih)

Yang pasti,  aku harus berkomitmen, untuk memanage waktu. Tidak saja sebagai istri dari Bang Asis, dan ibu dari Billa – Aam, namun juga sebagai penulis. Berat memang, tapi tetap harus ada waktu yang kutentukan untuk ngeblog. Tak lupa untuk fokus pada blog itu, guna  membangun brand bagi diri. Ini berat, tapi kalau diniatkan pasti bisa!

Aku pribadi, telah memiliki domain name di blogspot. Kugunakan website berbayar www.dianonasis.com. Kubuat di awal tahun 2013 ini.  Berisikan tentang karya-karya bukuku, tulisan tentang keluargaku dan flash fiction serta hal-hal lainnya. Tak terpikir kalau itu bisa digunakan sebagai pendukung niat personal branding. Saat itu hanya terpikir untuk membuat website pake namaku sendiri, karena aku bete kena gusur dari multiply. Hiks.

Setelah mengikuti talkshow ini, aku terpikir untuk lebih fokus lagi pada satu segmen. Karena aku mencintai dunia menulis cerita anak, kupikir tak ada salahnya, jika aku membuat blog satu lagi, di ranah WordPress. Maka jadilah www.dianonasis.wordpress.com yang lebih fokus pada cerita anak. Niatnya demikian.

Mudah-mudahan arah perjalananku sudah benar. Menjadi penulis udah, jadi blogger sedang dirintis, tergabung dalam 1-2 komunitas yang cocok, tengah kujalani. Saat ini aku pun mencoba membangun personal brand bagi diriku. Semoga dimudahkan oleh Allah SWT. Amin.

My First Awug Party

Aku sampai membaca dua kali pengumuman akan adanya pesta awuq di laman group facebook komunitas PBA. Kulirik tanggalnya, Hari Sabtu,  25 Mei 2013. Segera tanganku mengambil kalender duduk, dekat meja kerja. Mulai menghitung hari. Senyumku terulas manis.

“Ah, bertepatan dengan jadwal off, Bang Asis,” lirihku menahan senang.

Kutelepon suamiku yang berada di offshore dan bersegera menceritakan keinginanku untuk menghadiri pesta awug kali ini. Dua kali pesta sebelumnya, aku tak bisa ikutan, karena bentrok dengan jadwal suami yang berada di laut.

Oh iya, sekedar informasi, Pesta Awug merupakan sebuah kebiasaan atau tradisi di Komunitas Penulis Bacaan Anak (PBA) dalam rangka merayakan ulang tahun berdirinya Komunitas PBA pada tanggal 2 Mei 2010. Nah untuk acara puncaknya, biasanya dilakukan pemotongan awug, bukan kue tart, tumpeng atau nasi uduk.

Tahun ini, beginilah penampakan awugnya.

Image

Jepretan pertamaku untuk Awuq

Singkat cerita, semesta mendukung niat kuatku. Selain aku baru saja mendapatkan royalti, yang nilainya cukup untuk akomodasi hotel terdekat di Bandung Indah Plaza, karena acaranya berlangsung di sana. Plus suami ternyata akan ada seminar nasional terkait masalah perminyakan di Hotel Trans Bandung dua hari sebelum acara pesta awug.

Ini artinya, 2 hari sebelum acara, aku dan keluargaku akan berada di Hotel Trans. Kemudian selesai acara suami, kami pindah ke hotel Santika yang cukup jalan kaki tak sampai 2 menit dari BIP. Aduh, aku happy banget.

Hari H Tiba.

Suami ternyata tak enak badan dan kena flu. Mengingat perjalanan pulang kami lakukan dengan membawa mobil sendiri, maka kuputuskan Bang Asis untuk tinggal di hotel bersama anak-anak. Dan aku sendiri menuju pesta Awug.

What a Me Time !

Sejak kelahiran Aam, putra bungsuku, nyaris aku kesulitan mendapatkan Me Time dengan sempurna. Dan hari itu, tepat di acara ulang tahun Komunitas PBA, aku menikmati Me Time dengan para teman penulis, editor, pemerhati dan anggota PBA lainnya.

Pertama kali, yang kulakukan adalah mencari hypermart untuk membeli aqua gelas. Aku janji dengan Gia, salah seorang panitia kegiatan, untuk menyiapkan minuman mineral. Dengan bermodal 2 kotak aqua, kudorong troley menuju lantai dua. Sempat berjumpa Teh Ary dan Uni Eva yang sedang membawa nampan berisi awug. Kami hanya dadah-dadahan sebentar, karena posisi kami bersebrangan.

Image

Gia dan Awug

Ketika sampai di tempat acara, aku mencari wajah-wajah yang kukenal. Seseorang menyapaku, dan sempat lama berpikir, ketika ia menyebutkan nama “Syifa”. Baru aku ngeh, dari kelas Winner. Kami ngobrol sebentar, lalu kudekati Gia, Super Mom yang asyik menyiapkan segala sesuatu. Beruntung sebelumnya aku sudah kenal Gia lewat multiply, dan pernah kopdar di tahun 2012 awal di BIP juga. Langsung merasa nyaman dengan sambutan Gia yang super ramah.

Image

Gia yang sedang asyik ngobrol dengan wartawan dari majalah Nakita

Image

Yang baru datang, ada mbak Meydi, Mama Ina Inong, Teh Ary dan juga Mbak Firma. ada Syifa yang lagi duduk

Aku, yang termasuk kaku dalam mengikuti acara kopdar seperti itu, langsung bisa membaur. Satu persatu aku salami yang ada di sana. Beberapa cukup familiar, seperti Tethy Ezokenzo yang langsung menjadi pusat perhatianku. Ini pertemuan yang ke tiga kalinya dengan Tethy. Perempuan bercadar yang sangat produktif ini, salah seorang yang membantu membuka dunia cerita anak padaku, karena kebaikan hatinya dalam berbagi pengalaman.

Image

Dua perempuan yang mampu menginspirasi banyak orang : Kak Indah Juli dan Tethy Ezokenzo

Tak lama, aku mulai mencerna situasi. Ada mbak Firma Sutan yang duduk manis di sebelahku. Dia orang yang talkactive, akan nyaman bagi kita yang bingung mau ngapain. Lalu ketemu Nia, yang sialnya aku lupa kalau aku bawa buku the Cousins untuk dia review. Ada Susanti, yang beberapa kali sibuk meminta maaf perihal resensi buku Gomawoyo,Chef! Membuatku juga sibuk beberapa kali menyatakan kalau aku tak keberatan, malah senang dan tak ada masalah sama sekali. Hehehe… Susan yang unik!

Image

Kang Ali, Indari dan Mbak Firma

Dan tentu, aku ingin cium tangan, -refleks- kalau ketemu Teh Ary. Bukan karena usianya, tapi karena wujud hormatku. Soalnya selain Kang Iwok, Bhai Benny dan beberapa senior lainnya, Teh Ary juga merangkap tutor bagiku sejak awal keterlibatanku dengan dunia cerita anak. Lagi pula Teh Ary juga teman sesama ex multiplyers nih… hehe. Selalu menyenangkan berjumpa dirinya.

Image

Ada uni Eva, mama Ina Inong, Dina Y Sulaeman dan anaknya yang keren, Kirana. Hemmm, siapa lagi ya? Oh iya, tentu ada Bhai dan family, Kang Ali dan keluarga juga, serta beberapa wajah lain, yang mungkin aku kenal id facebooknya, tapi tak ingat wajahnya.

Image

Oh iya, aku sempat ngobrol sebentar dengan Mbak Meydi yang sedang berada di Indonesia.

Image

Kak Injul dan Mbak Meydi

Urutan acara berlangsung enak. Meski selama acara, ada juga yang asyik ngobrol satu sama lain, sementara aku memilih duduk paling depan, sebelah mbak Firma, karena niatku hadir tak hanya silaturahim. Tapi juga menggali ilmu dan pengalaman.

Image

Mejenk bareng si Awuq, sebelum dipotong

Acara pembukaan, seperti sambutan cukup cepat. Acara puncaknya adalah pemotongan Awuq. Aku juga baru merasakan awug pertama kali di acara ini. Rasanya seperti kue putu yang sering lewat tiap sore di depan rumahku. Enak!

Pemotongan awuq oleh admin 13 (yang hanya diwakili oleh Teh Ary, Bhai Benny dan Kang Ali) dan Indari wakil dari IIDN, lalu awug yang dipotong, diberikan ke beberapa perwakilan, mulai dari mantan admin 13, yakni Kak Indah Juli, lalu ke Kirana sebagai wakil penulis anak, lalu ke Mbak Meydi, karena datang dari jauh. Satu lagi, aku lupa, namanya.

Image

Teh Ary motong Awuq untuk pertama kalinya

Setelah acara itu, ada juga acara bagi-bagi buku. Aku dapat satu. Bukunya kak Wylvera atau kak Wyk. Dia hadir bersama putrinya Jasmine, yang dalam kondisi tak fit, namun tampil cukup apik di acara hiburan, dengan menyanyi sambil main gitar. Eh iya, aku lupa, ada anak kecil berjilbab, main biola, itu siapa ya? Lupa nanya deh ke panitia.

Image

dilanjutkan oleh Bhai Benny

Image

Kemudian dipotong oleh lagi oleh Kang Ali

Image

Terakhir dipotong oleh Indari.

Berikut ini, adalah wajah para wakil peserta yang mendapat potongan Awuq langsung dari admin 13 plus IIDN.

Image

ki ka : bhai, Teh Ary, Iin, Kak Injul, Mbak Mey, Kirana, lupa namanya, Kang Ali dan Bang Aswi

Selain acara tanya jawab dan bagi-bagi buku, tentu saja, aku menantikan acara puncaknya, yakni Talkshow. Yang jadi pembawa acaranya adalah Bhai Benny dan Kang Ali, sementara yang jadi narasumber adalah Teh Ary Nilandari, ngewakili pihak penulis buku anak, Bang Aswi wakil blogger dari Warung Blogger, Kak Indah Juli wakil dari komunitas Emak-Emak Blogger dan ada Indari Mastuti dari IIDN yang akan membahas perihal Personal Branding.

Image

Para Moderator dan Pembicara

Acara ini asyik dan sangat memberikan banyak pengetahuan. Mulai dari mengapa menulis cerita anak, lalu tentang blogger, kemudian bicara komunitas, hingga tentang personal branding. Seru sekali. (untuk cerita detail dari TalkShow ini, nantikan postinganku berikutnya ya!).

Selesai acara talkshow, masih ada acara tanya jawab, seperti biasa, aku tak pernah melewatkan sesi tanya jawab. Rugi atuh, punya masalah di otak, tapi gak ditanyain ke orang-orang yang mumpuni di tempat yang tepat. Hehehe

Image

Ayah Salwa Pendongen yang Kocak

Beberapa penanya lain juga berasal dari editor, dan juga pendongeng. Ayah Salwa yang pendongeng itu membuat ekspresi yang menarik dan lucu, selama mengajukan usulan –atau pertanyaan ya?- seputar perlunya penulis cerita anak menjadi juru dongeng. Cukup menghibur cara ia bertanya.

Selesai acara tersebut, masih ada acara bagi-bagi buku lagi. Dan sialnya, aku nyaris dapat buku, hanya saja kurang tepat menjawab pertanyaan, siapa 5 orang admin 13 di PBA. Hihihi. Faktor U itu sangat mempengaruhi ya? Eh, nggak juga, la wong mbak Meydi yang usianya tak jauh berpaut dariku, bisa menjawab pertanyaan itu dengan tepat, dan ia berhak sebuah buku.

Image

Sebagian dari goodie bag untuk para penanya, dan juga untuk disumbangkan

Selesai acara talkshow, dilanjutkan acara hiburan. Disinilah Jasmine bernyanyi dengan gitarnya. Gak kelihatan kalau di malam sebelumnya abis demam. Juga ada seorang violinist cilik dengan jilbab putih dan kacamata mungilnya.

Image

Jasmine dan gitarnya

Image

Violinist cilik ini, aku lupa namanya

Image

Wajahnya senang deh, kalau udah dapat souvenir cakep..:)

Setelah acara talkshow, para pembicara juga dapat hadiah alquran cantik dan beberapa buku novel anak . Asyik yaaa?

Oh iya, ada juga acara menyumbang sejumlah buku ke BIP Library dari komunitas PBA. Diwakili oleh Teh Ary. Aku lupa, kalau tak salah, dari BIP dan Library tersebut memberikan beberapa privelege bagi anggota PBA yang hadir pada saat itu, seperti BIP Card, dan Library Card. Sayang, karena aku bukan warga Bandung, dan entah kapan bisa ke Bandung dalam waktu dekat, fasilitas itu aku lewatkan saja.

Image

Acara berakhir dengan mencoba memainkan angklung secara dadakan, dengan sistem penomoran pada angklung. Aku gak ikut terlibat di sini, tapi asyik menangkap moment-moment kocak yang terjadi selama proses menyanyikan lagi We Are The World dengan angklung.

Image

Nia bingung, Tethy dengerin, mbak Meydi jelasin

Image

Konsen ikuti petunjuk. Jasmine menyanyi di belakang

Image

Foto bareng, sekaligus bukti, aku ada di sana…Yipiieee my first Awug party…

Dan penutup acara ini, tak lain dan tak bukan, ya foto-foto. Aku sempat ikut difotoin. Untuk yang ini, aku ogah rugi deh. Kapan lagi coba berfoto bersama penulis dan pemerhati bacaan anak, coba?

Image

Ki Ka : Aku, Uni Eva, Uni Desti dan Dina Y Sulaeman

Image

Bareng Mama Ina Inong dan Dina Y Sulaeman

Aku bahkan sempat berfoto dengan Uni Desty, yang sudah lama menjadi teman di MP, tapi baru ketemu saat itu. Aku malu sekali, karena lupa dengan wajahnya. Maafkan aku ya Uni? Yang penting sih udah saling tukeran nomor pin… hehe.

Kegiatan yang berlangsung dari subuh hari itu (Acaranya dimulai dari jalan pagi bersama dari titik Nol, hingga ke tempat acara. Untuk yang ini aku tidak ikut) dan berakhir pada pukul 14.00 siang, (kurang lebih).

Aku buru-buru pamitan. Sempat janjian sama mama Ina Inong untuk tukeran buku, ngasih buku ke Farrasnya Teh Ary, dan ke Mbak Firma yang beli buku The Cousins. (I still waiting for her review for this book…. It will excited then…

Image

Teh ary, with my newest book. The Cousins

Segera aku membeli makan siang untuk Billa dan suamiku. Kembali ke kamar hotel, dan bersiap-siap packing lagi. Karena besoknya, kami akan pulang. Suami sudah diharuskan menyiapkan diri dinas ke Shanghai, sebelum akhirnya dibatalkan. Karena Minggu sampai di rumah, Senin dapat kabar ibu Mertua masuk ICU di rumah sakit Belawan, dan Selasa, kami sekeluarga sudah terbang ke Medan.

Life is to unpredictable…

So unpredictable…

Mengapa memilih menulis cerita anak?

pinjem dari bp.blogspot.com

*tulisan ini sudah diedit ulang, sebelumnya diposting di komunitas Taraje 

Judul di atas, adalah pertanyaan yang sering ditanyakan teman-teman dekatku. Bahkan ada yang “keras” membuat pernyataan, “Lo gak akan kaya dengan menulis cerita anak, Dian! Jangan mimpi akan ada JK Rowling jilid 2!

Hehehe, terus terang, mana ada orang bekerja, apalagi bekerja di dunia yang disukainya, dalam hal ini menulis, yang juga tak ingin kaya? Kan asyik ya, kalau kita tak hanya kaya hati, lalu dituliskan isi hati kita dalam bentuk buku, lalu jadi kaya materi?

Kembali ke pertanyaan di atas, maka jawaban sederhananya, adalah karena niat awal menulis, cenderung pada cerita anak. Inilah yang akhirnya, akan membedakan tiap-tiap penulis yang ada, di genre manapun.

Ada beberapa teman, menulis cerita anak, sekedar ingin tahu. Bagaimana sih, rasanya menulis cerita anak? Lalu, setelah berhasil menuliskannya atau punya 1-2 buku, ia beralih ke genre lain

Apakah ini salah? Tentu saja, tidak!

Hanya saja, cuma sedikit orang-orang yang memang mampu berada di banyak genre tulisan. Sementara banyak yang justru akhirnya tak fokus dan hilang ditelan kompetisi dunia menulis yang semakin ketat.

Ada beberapa teman (penulis) lain, yang justru sangat berbakat menulis cerita (anak) dan tekun bin fokus menjalaninya. Akhirnya menduduki posisi-posisi menarik dan bagus di dunia menulis cerita anak

Lalu, kalau seperti aku? Termasuk jenis penulis yang manakah?

Boleh dibilang, aku termasuk penulis yang mengandalkan 99% kerja keras, karena hanya memiliki 1% bakat menulis. Dengan kata lain, aku tak memiliki bakat menulis yang menonjol, namun mau belajar sungguh-sungguh untuk menulis cerita anak

Niat utamaku sebenarnya adalah sekedar menginginkan anak-anakku kelak gembira membaca tulisan yang kubuat. Namun, tak kupungkiri, jika lewat menulis ini lalu jadi ada nilai ekonominya, tentu tak kutolak. Siapa tahu bisa kayak seperti JK Rowling –meski mustahil, tapi jika ternyata benar-benar terjadi di Indonesia, saya tentu mau ^_^V.

Sesederhana itukah niat awalku? Yup! Sesederhana itu.

Jika pada akhirnya, aku malah keasyikan menulis novel anak, cerpen anak dan juga kumpulan dongeng… itu terjadi karena proses (by process not by design), diiringi kerja keras dan niat yang kuat.

Lalu, apakah prosesku menjadi penulis cerita anak semudah itu? Jelas tidak!

Terus terang, aku tidak tahu teori-teori menulis cerita. Di awal pembelajaranku, aku tak mengerti definisi karakter, tentang bahasa menganak, plot, alur dan lain-lain.

Please, jangan tanya mengenai  teori-teorinya. Aku akan kesulitan menjelaskan berdasarkan text book. Jika ada pertanyaan yang diajukan pada diriku, akan kujawab berdasarkan pengalaman yang kumiliki.

Ketika pertama kali terjun ke dunia menulis cerita anak, yang kulakukan adalah membaca dan membaca. Kupergunakan kebiasaan meneliti dan riset selama menjadi dosen di kampus.  Sistem riset ini selalu digunakan ketika menulis bacaan-bacaan anak.

Dari sana, kubuat “modul” atau “ringkasan” sendiri. Baru kemudian kumulai menulis dan menulis.

Selama menulis, aku tak perduli teori. Patokannya hanyalah draft naskah, timeline yang kubuat dan ukur sesuai kemampuan serta kondisi ketika menulis.

Kemudian, edit dan edit naskah berkali-kali.

Berlanjut, untuk memperbaiki kualitas menulis, maka kucari “guru”. Mulai dari yang gratisan, seperti di blogfam (2010) hingga kelas Malam Minggunya TASARO (2013). Aku juga ikut dalam beberapa kelas online yang berbayar.

Dari sini semuanya kembali berproses.

Hingga tanpa disadari, sejak tahun 2009, ketika pertama kali menulis cernak untuk lomba majalah Bobo (berhasil masuk jajaran pemenang harapan,  yang akhirnya memboosting semangat menulisku), akhirnya, di tahun ini (2013), dapat menghasilkan 5 novel anak, 1 buku genius kid (sbg co-writer), lalu 3 cernak tergabung dalam 3 buku kumcernak, di berbagai penerbit mayor (Tiga Ananda, Dar!Mizan, Bentang Belia, Pelangi Indonesia, Pustaka Ola, dan Talikata).