Pertama Kali Menulis Cernak, Pertama Kali Menang.


Ini adalah kisah pertama kali aku mencoba menulis cerita anak. Dan penuh kenekadan untuk ikut serta dalam lomba cerita anak misteri yang diselenggarakan oleh Majalah Bobo di tahun 2009.

Apakah aku nekad ikut begitu saja? Atau aku berusaha keras?

Yup! Jawabannya, aku berusaha keras.

Berawal dari rinduku pada almarhum Miftah, sodara kembar Billa (putri pertamaku), aku mencoba menuliskan kisah bertema misteri/detektif dengan menggunakan nama Miftah dan Billa sebagai nama karakter di ceritaku.

Aku menemukan ide judul terlebih dahulu, baru kemudian aku utak-atik naskah itu.

Teka Teki Telapak Tangan, menari-nari di kepalaku. Kata-kata itu sungguh mengundang perhatianku.

Aku membeli beberapa majalah bobo dan majalah anak-anak lainnya. Kupelajari satu demi satu, semua cerita anak yang ada di majalah-majalah tersebut. Ya, aku riset untuk belajar menuliskan cerita anak ini. Kuperhatikan satu paragraf hanya terdiri dari beberapa kalimat. Satu kalimat, hanya terdiri kurang dari 8 kata. Dan konflik, setting serta solusi cerita kuperhatikan.

Setelah membaca belasan cerita, aku mulai menuangkan ideku. Tanpa henti, tanpa edit, kuketik cerita itu, menjadi 8 halaman. Astaga, ini jelas salah.

Maka aku edit, revisi, dan terus menerus kulakukan, selama 1 minggu. Nyaris telat dari DL lomba, segera kuprint dan kukirimkan ke majalah Bobo.

Aku lupa, tanggal pengumumannya, hingga suatu hari, temanku dari dunia maya, memberitahu kabar gembira. Naskahku itu lolos masuk dalam 15 naskah pilihan. Dan uang 500 ribu masuk ke rekeningku. Meskipun tidak masuk 3 besar, tapi masuk dalam 15 naskah pilihan dari ratusan mungkin ribuan naskah peserta lomba, ditambah ini adalah karyaku pertama kali di bidang fiksi dan cerita anak, rasanya sungguh tidak bisa diukur.

Senangnya bukan kepalang!…. Apalagi kulihat pengumumannya di majalah Bobo tahun itu.

Pengumuman pemenang lomba cernak misteri majalah bobo tahun 2009

Pengumuman pemenang lomba cernak misteri majalah bobo tahun 2009

Sejak itu, aku semangat mempelajari dunia menulis cerita anak. Apalagi ketika cerita para pemenang dalam lomba itu diterbitkan dalam bentuk buku. Duh senang sekali.

340201_2358793366725_1156993721_32830201_1938007935_o

Kumpulan cerita detektif, tulisan para pemenang lomba cernak misteri bobo 2009

Hingga hari ini, aku tidak akan bisa melupakan tulisan perdanaku ini. Sungguh menyenangkan sekali, menekuni suatu bidang atau dunia yang selama ini mungkin tak terpikirkan olehku. Kerinduanku pada (alm) Miftah terlipur sedikit. Aku berada di dunia menulis cerita anak saat ini, tak lain adalah wujud dari kerinduanku pada dirinya, terapi jiwaku sekaligus dunia pekerjaan baru yang sesuai passionku saat ini.

Alhamdulillah.

***

Berikut cerita lengkap : Teka Teki Telapak Tangan . Rasanya aneh juga membaca tulisan pertamaku ini. Ada beberapa yang aneh dari segi EYD. Kurasa, penilaian juri pada naskah ini terletak pada originalitas juga kali ya? Serta judul cerita yang eye catching.🙂

Silahkan menikmati tulisan ini ya..:)

Teka teki telapak tangan

    Oleh Dhian Iskandar

Mata Billa tidak bisa terpejam dengan tenang. Hujan turun deras diluar sana. Diliriknya jam dinding,. “Wah… sudah jam 2 pagi, kenapa mata ini tak mau terpejam juga ya.” bisiknya dalam hati.

Tak lama ia mendengar suara berkeletek di luar . “Eh.. bunyi apaan tuh” bisiknya lagi. Billa berusaha bangun dari tempat tidurnya, berjalan ke dekat jendelanya serta berusaha melihat keluar.  Namun pandangannya terbatas oleh derasnya hujan..

Akhirnya, dengan malas ia kembali ke tempat tidurnya.. “Ah mungkin bunyi kucing atau binatang lainnya kali ya,….”

Subuhnya, terdengar suara bernada kaget dari kamar abangnya.

“Wah.. aku kecurian nih…” teriak Miftah..

Billa lari ke kamar abangnya.

Jarak usia mereka bertaut jauh. Ketika Billa lahir, Miftah sudah duduk di kelas 1 SD.

“Ada apa Bang?” tanya Billa sesampai dikamar abangnya..

“Ini Bill,  Abang kecurian nih.. “ jawab Miftah dengan wajah sedih bercampur kesal.

“Apa yang hilang Bang ?” tanya Billa.

“Handphone Abang … dan… hardisk eksternal yang baru dibelikan Ayah seminggu yang lalu,  padahal itu mahal ya Dek”. Jawab Miftah dengan prihatin…

Billa jadi turut merasakan sedih yang dirasakan oleh abangnya.

Tidak lama, Ayah dan Bunda menyusul ke kamar Miftah dan mencoba melihat kondisi yang ada di kamar. Ternyata jendela kamar Miftah telah dicongkel seseorang dari luar. Sedangkan Miftah meletakkan handphone dan hardisknya di meja yang dekat dengan jendela.

“Ya sudah.. kita lapor ke Pak RT aja dulu.. biar nanti Pak RT menanyakan kepada petugas siskamling yang semalam bertugas.. apakah tau atau mencurigai sesuatu semalam”, kata Ayah.

Sekitar 15 menit kemudian Pak RT datang. Billa dan Miftah sendiri bersiap sarapan sebelum ke sekolah. Pak RT kemudian memeriksa kamar Miftah.

Billa mendengar dari kejauhan pendapat Pak RT,  “Sepertinya semalam ketika hujan itu kejadiannya ya ? .. soalnya ada bekas-bekas tanah becek di dekat jendela ini.. “ Jelas Pak RT…

“Nanti saya akan tanyakan kepada Pak Imam, mengenai siapa yang bertugas siskamling semalam, soalnya Pak Imam semalam tidak bertugas. Ia bilang ada yang menggantikan dia untuk berjaga semalam”. Papar Pak RT.

Takk lama Pak RT  pergi ke luar diantar oleh Ayah.

Sepanjang disekolah Billa tidak konsentrasi ke pelajaran. Pikirannya terus memikirkan peristiwa pencurian dirumahnya. Ia lalu teringat bahwa jam 2 dini hari itu ia mendengar bunyi–bunyian di jendela abangnya.  “Jangan-jangan waktu itu adalah ketika si pencuri berhasil masuk ke kamar Bang Miftah ya”.  pikir Billa. Dalam hatinya ia bertekad untuk menyelidiki peristiwa pencurian ini.

Sepulang sekolah,  setelah makan siang, Billa berjalan ke samping rumah dan berhenti di dekat jendela kamar Miftah. Billa mengmati dengan cermat sekitar jendela tersebut. Tak berapa lama, ia melihat didekat jendela sebelah kiri terlihat samara bekas jejak tanah becek.. dan sepertinya aneh.Ia berbentuk telapak tangan.. namun hanya ada 4 jari di jejak telapak tangan tersebut. Dengan deg-degan Billa memperhatikan jejak telapak tersebut Dihitungnya dan diletakkannya telapak tangannya sendiri di dekat jejak tersebut.

“Ya…, ini gambar telapak tangan yang jari kelingkingnya tidak ada” bisik Billa senang bercampur deg-degan karena berhasil menemukan tanda telapak tangan.

“Jangan-jangan inilah telapak tangan pencuri semalam yang menahan jendela agar tidak berbunyi terlalu keras ketika dicongkel” pikir Billa

Malam itu, bel depan rumah berbunyi.. Ternyata ada Agai anak Pak Imam yang bandel. Billa gak suka dengan Agai..karena sering menodong minta uang padanya setiap kali ketemu. Tapi Agai memang tidak mengganggunya. Ia hanya minta uang buat beli rokok.

“Ada apa, Bang ? “ tanya Billa heran ketika Agai ke rumahnya.

“Nggak…,ini ada surat undangan rapat dari bapak. Kebetulan Bapak lagi pergi.. jadi aku yang anterin ke rumah-rumah”  jelas Agai.

Tidak lama si Agai menyerahkan selembar kertas dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih merokok. Billa tidak suka sekali dengan sikap Agai. tapi Billa diam saja. Tapi hatinya berdegup kencang ketika menerima lembaran surat undangan dari tangan kiri Agai. Karena tangan kiri Agai tidak ada kelingkingnya.

Billa dengan dada sesak buru-buru menutup pintu dan lari ke kamar Miftah yang sedang balajar di kamarnya.

“Bang… !!!” teriak Billa..

“Ada apa, Dek ?” jawab Miftah kaget.

“Bang…, Billa tahu siapa yang mencuri barang-barang Abang”. Jelas Billa dengan nafas terburu. Belum sempat Miftah bertanya lagi, Billa telah menjelaskan penyelidikannya sampai tentang kedatangan Agai barusan.  Hal yang sama juga dijelaskannya ke Ayah. Dan Ayahnya pun berjanji besok pagi akan menemui Pak RT  lagi. Billa tak bisa memejamkan matanya. Hatinya deg-degan ingin tahu apakah penyelidikan dan temuannya hari ini benar adanya.

Pagi harinya Billa sudah mandi dan menunggu Ayahnya keluar dari kamar. Ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Pak RT. Ketika Pak RT dating dan meminta Billa berbicara makan Billa membeberkan hasil penyelidikannya dan  pertemuannya dengan Agai semalam. Pak RT lalu mengajak Ayah ke rumah Pak Imam. Sesampai di rumah Pak Imam, Pak RT lalu memaparkan apa yang terjadi dan meminta agar Agai dipanggil untuk ditanyai. Agai keluar kamar dengan wajah  kaget dan ketakutan. Namun dia tetap patuh untuk duduk  mendengarkan penjelasan Pak RT. Lalu ditanyakan  keberadaan Agai ketika hari pencurian terjadi.  Pak imam langsung menjelaskan kalau Agai hari itu menggantikan dirinya untuk siskamling, karena Pak Bowo yang biasanya menggantikannya sakit.

Lalu Pak RT menceritakan apa yang terjadi 2 malam yang lalu.  Pak Imam kaget bukan main. Pak RT juga menjelaskan tentang telapak tangan yang terdapat di dekat jendela kamar yang tidak ada jejak jari kelingkingnya. Lalu Pak RT meminta Agai menunjukkkan telapak tangan kirinya. Dengan takut Agai menunjukkannya dan terlihat bahwa jari kelingkingnya memang tidak ada. Pak Imam menjelaskan bahwa jari kelingking itu hilang ketika Agai bermain dengan pisau dapur beberapa bulan lalu.

Pak RT kemudian meminta agar Agai berterusterang apakah ia yang mencuri barang- milik Miftah.. Awalnya Agai tidak mau mengaku..namun ketika diancam akan membawanya ke polisi, akhirnya Agai mengaku. Ia kemudian masuk ke kamarnya dan keluar sambil memegang hardisk eksternal Miftah. Sedangkan handphone telah laku terjual.

Miftah senang sekali  hardisknya tidak jadi hilang. Ia berjanji kepada Ayah akan  lebih hati-hati lagi mengunci jendela kamarnya . Pak Imam dengan muka menyesal memohon agar  Agai dimaafka. Iia berjanji memberi hukuman buat Agai. Ayah sendiri menganggukkan kepala tanda setuju untuk tidak melaporkan ke polisi . Agai bukanlah pencuri..Ia hanya anak manja yang ingin mencari perhatian Ayahnya. Jadi Agai harus dihiukum oleh ayahnya saja. Itu menurut pendapat Ayah Billa.

Billa dengan senang merangkul tangan Ayahnya. Ayah Billa mengelus kepala Billal dan mengucapkan terima kasih serta selamat atas hasil penyelidikannya  yang behasil menemukan siapa pencuri barang milik Miftah.  Agai sendiri menundukkan kepalanya. Ia berjanji tidak akan mencuri lagi dan juga  berjanji akan menerima hukuman dari Ayahnya.. Billa tidak tahu apa hukuman dari Pk Imam untuk Agai. Namun yang pasti Billa senang ia berhasil memecahkan teka teki telapak tangan di dekat jendela kamar abangnya hingga dapat menemukan pencuri barang milik abangnya.

******* tamat ******

3 thoughts on “Pertama Kali Menulis Cernak, Pertama Kali Menang.

  1. Dulu pernah nyoba ikutan lomba cerita anak di Bobo. Belum berhasil dan naskahnya masih disimpan. Pengen revisi. Banyak yang harus dipelajari tentang menulis cerita anak.

    • Tetap semangat ya mbak Murti… semua butuh proses juga… Tips saya, memang baca bobo lebih sering dan pelajari jenis2 tulisan di situ. Biasanya nanti akan kelihatan Bobo sukanya tipe tulisan seperti apa..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s